Bermula dengan Mengejar Kesempurnaan


Lexus dikenal sebagai mobil papan atas yang menggunakan material berkualitas tinggi dan dibuat dengan keterampilan, ketelitian, dan cita rasa yang tinggi.
Sebelum keluar pabrik, pada setiap tahapan proses pembuatannya, sebuah mobil Lexus diperiksa dengan saksama oleh teknisi berpengalaman yang memiliki kemampuan seorang master, yang di dalam bahasa Jepang dikenal dengan nama takumi.
Dengan mengenakan sarung tangan putih, seorang takumi dengan penuh ketelitian memeriksa bagian demi bagian dari mobil Lexus pada tiap tahapan proses pembuatan mobil, dan membubuhkan tanda tangan jika bagian yang diperiksanya dianggap telah memenuhi standar kualitas dan cita rasa Lexus.

Pemeriksaan yang teliti pada setiap tahapan proses pembuatan mobil Lexus tidak hanya dilakukan oleh mesin atau robot, tetapi juga dilakukan para takumi dengan sarung tangan putihnya. Para petinggi Lexus menganggap pemeriksaan standar kualitas dan cita rasa yang ditetapkan oleh Lexus tidak bisa hanya diserahkan kepada mesin, mengingat kualitas dan cita rasa mobil Lexus itu akan diukur oleh pancaindra konsumen. Itu sebabnya, pemeriksaannya juga harus dilakukan oleh manusia yang memiliki tingkatan master, dalam hal ini seorang takumi.

Sama seperti di pabrik mobil lain, di pabrik Lexus pun proses pembuatan mobil terdiri dari lima tahap, yaitu pencetakan bodi (stamping), pengelasan (body weld), pengecatan (paint), perakitan (assembly), dan pengecekan akhir (inspection).

Bedanya, hanya di pabrik Lexus pada setiap tahapan itu ada takumi yang bertanggung jawab atas kualitas pengerjaan. Dan, seorang takumi tidak akan melewatkan satu detail pun. Oleh karena itu, filosofi Pursuit of Perfection (Mengejar Kesempurnaan) yang digunakan sebagai moto Lexus sangatlah tepat.

Semangat untuk mengejar kesempurnaan itu dapat dirasakan dengan baik oleh wartawan otomotif Asia Tenggara yang pada 20 Agustus lalu berkunjung ke Tahara Plant, pabrik Lexus yang terletak di Perfektur Aichi, sekitar 105 menit perjalanan dengan kereta api dari Nagoya.

Di Tahara Plant terdapat 10 takumi, 40 asisten takumi, 300 teknisi tingkat I, 600 teknisi tingkat II, dan 1.800 teknisi tingkat III. Mereka inilah yang bertanggung jawab atas kualitas setiap mobil Lexus yang keluar dari Tahara Plant.

Bersih dan senyap
Lexus yang memenuhi kualitas kelas dunia harus dibuat dalam lingkungan yang bersih dan senyap. Oleh karena itu, kebersihan menjadi hal terpenting di Tahara Plant. Setiap setengah jam sekali lantai pabrik dibersihkan sehingga lantai terlihat bersih dan mengkilat. Debu dianggap sebagai musuh utama.

Siapa pun yang akan memasuki area produksi di Tahara Plant diharuskan melewati lorong angin yang akan membersihkan debu yang menempel di pakaian dan tubuh orang yang akan masuk.

Untuk menjaga keselamatan para pekerja, tugas-tugas yang mencakup pengangkatan benda-benda berat, perakitan, atau pekerjaan yang menimbulkan stres yang tinggi dikerjakan oleh robot atau mesin-mesin lain.

Pengecatan menggunakan cat berbasis air guna menciptakan lingkungan kerja yang bersih dan sekaligus membuat cat tahan lama dan aman bagi lingkungan hidup. Dan, untuk menjaga agar cat tetap mulus, lengan-lengan robot yang melakukan proses pengecatan dilapisi dengan busa yang dibalut kain putih. Dan, untuk membuat cat pada mobil terlihat sempurna dan berkualitas tinggi, cat dipoles dengan air sehingga permukaan cat sangat halus.

Tahara Plant merupakan pabrik yang melahirkan Lexus. Lexus pertama yang diluncurkan pada tahun 1989, yakni LS400 yang selintas sosoknya mirip Mercedes Benz S560, diproduksi di Tahara Plant. Lexus yang diawali dengan LS400 dengan cepat mendapatkan di ceruk sedan papan atas dunia yang ditempati mobil-mobil papan atas Eropa dan Amerika Serikat.

Lexus LS460 dapat disandingkan dengan Mercedes Benz S-Class, BMW Serie 7, Audi A8, Jaguar XJ8, dan Cadillac.

LS460, LS600H, GS,300, LX570, dan IS F dilahirkan di Tahara Plant yang dianggap sebagai ibu dari Lexus. Model lain Lexus, seperti IS350/IS250/IS220d, ES350, dan RX350/RX400h diproduksi di Miyata Plant, Kyushu, yang dikunjungi Kompas, 22 Oktober 2007. (JL)

Artikel ini dimuat di harian Kompas, 16 September 2008, halaman 37

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s