Text Driving ‘Worse Than Drink’

Mengetik atau Membaca Teks Sambil Mengemudi Lebih Buruk daripada Minum (Minuman Keras). Itu adalah terjemahan kalimat bahasa Inggris di atas.

Judul berbahasa Inggris dari BBCNews.com itu sengaja dipertahankan karena jika terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka kalimatnya menjadi terlalu panjang.

Yang ingin ditekankan melalui judul itu adalah mengetik atau membaca tesk SMS atau layanan pesan singkat sambil mengemudikan mobil itu berbahaya. Baik itu bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, baik yang di dalam mobil yang sama maupun yang berada di luar mobil. Misalnya pejalan kaki, orang-orang yang tengah berdiri di tepi jalan, pengendara sepeda, pengendara sepeda motor dan orang yang dibonceng, serta pengemudi dan penumpang mobil lain.

Akhir-akhir ini semakin sering kita melihat seseorang yang mengemudikan mobil dengan satu tangan, dan satu tangan lagi memegang telepon genggam di telinga, atau sambil mengetik dan membaca teks SMS (layanan pesan singkat). Orang-orang itu dengan tenangnya mengetik SMS sambil mengemudikan mobil, dan bertindak seakan-akan apa yang dilakukannya itu tidak berbahaya.

Padahal, mengemudikan mobil sambil mengetik teks SMS sangat berbahaya. Dari beberapa penelitian yang dilakukan, tampak jelas bahwa mengetik teks SMS sambil mengemudi itu lebih berbahaya daripada pengemudi yang berada di bawah pengaruh obat-obatan atau minuman keras.

Dari uji coba yang dilakukan RAC Foundation, lembaga independen yang melindungi kepentingan pengendara, terlihat bahwa saat seseorang mengemudikan mobil sambil mengetik atau membaca teks SMS, maka reaksi orang tersebut melambat 35 persen.

Padahal dari penelitian dilakukan terhadap seseorang yang berada di bawah pengaruh ganja, reaksi orang tersebut melambat 21 persen, dan yang berada di bawah pengaruh minuman keras di atas ambang yang diperbolehkan, melambat 12 persen.

Selain itu, orang yang mengetik atau membaca teks SMS sambil mengemudi, mobilnya sering keluar lajur, dan pengedalian atas setir pun menurun tajam.

Penelitian yang dilakukan Transport Research Laboratory (TRL) juga memperlihatkan bahwa secara keseluruhan pengendalian setir oleh orang yang mengetik atau membaca teks SMS sambil mengemudi, 91 persen lebih buruk, ketimbang orang yang berada di bawah pengaruh ganja yang 35 persen lebih buruk.

Konsentrasi terpecah
Dr Nick Reed, peneliti senior di TRL, mengatakan, pada saat mengetik atau membaca teks SMS, konsentrasi pengemudi ke jalan terpecah, dengan melepaskan satu tangan dari setir dan menggunakannya untuk memegang telepon genggam, serta berupaya membaca teks dengan huruf kecil-kecil yang terpapar di layar monitor telepon genggam, dan memikirkan untuk mengetik teks SMS jawabannya.

Penelitian TRD itu dilakukan menyusul jajak pendapat (polling) yang diadakan RAC, yang memperlihatkan bahwa dari 3.000 pengemudi yang menjadi responden, 48 persen di antaranya, yang mayoritas berusia 18-24 tahun, mengaku, mereka mengetik atau membaca teks SMS sambil mengemudi.

Dan, mereka menganggap bahwa mengemudikan mobil di bawah pengaruh alkohol adalah sebagai tindakan yang paling berbahaya. Padahal dalam kenyataannya, mengemudi sambil mengetik atau membaca teks SMS jauh lebih berbahaya.

Itu sebabnya, menggunakan telepon genggam, apalagi untuk mengetik dan membaca teks SMS tidak dapat dibenarkan, atas alasan apa pun.

Gunakan perangkat hands free, jika Anda harus menggunakan telepon genggam sambil mengemudi. Sedangkan apabila Anda mendapatkan SMS, yang terbaik adalah berhentikan mobil Anda pada tempat yang aman, kemudian baca dan balaslah SMS itu. (JL)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s