Membayangkan Dunia Tanpa General Motors

Pada tanggal 23 November 2008, harian “Kompas” muncul dengan berita utama, GM “Berniat” Bangkrut. Judul itu tentu saja sangat mengejutkan. Siapa yang pernah membayangkan bahwa GM, singkatan dari General Motors, perusahaan pembuat mobil terbesar di dunia, yang 16 September lalu baru merayakan usianya yang ke-100, berniat untuk menyatakan diri bangkrut.

Foto: 24 Februari 1907: Para anggota Soerabajasche Motor Club (Klub Motor Surabaya) dalam perjalanan menuju Banyu Biru, Jawa Timur. Mobil yang berjajar dari kiri ke kanan: Reo, Darracq, Cadillac, Darracq, Fiat, Reo, Spijker, Reo, Reo, Reo, Reo, Peugeot, Albion, Minervette, Spijker, dan Mauser.

Kalau sampai GM bangkrut, ada 226.000 pekerja di seluruh dunia
akan kehilangan pekerjaan dan 139.000 pekerja di antaranya berada di
Amerika Serikat.
GM menaungi 13 merek mobil, yakni Chevrolet, Pontiac, Saturn,
Buick, Cadillac, Hummer, Saab, GMC, GM Daewoo, Holden, Opel, Vauxhal,
dan Wuling, serta memiliki 160 pabrik di dunia.
Memang, pekan lalu, media massa telah memberitakan bahwa tiga
perusahaan pembuat mobil terbesar di AS, yakni General Motors, Ford,
dan Chrysler, memerlukan dana talangan sebesar 25 miliar dollar AS
untuk menyehatkan kembali keuangan mereka akibat deraan krisis
keuangan yang melanda AS. Namun, permintaan dana talangan sebesar 25
miliar dollar AS itu terhambat karena mendapatkan tentangan keras dari
Kongres AS.
Akan tetapi, banyak kalangan yang percaya bahwa Pemerintah AS pada
akhirnya akan bersedia membantu ketiga perusahaan pembuat mobil itu
untuk mengatasi kesulitan keuangan yang dihadapi.
Karena, bagaimanapun, GM, Ford, dan Chrysler itu sudah menjadi
simbol kebesaran AS dalam industri otomotif di dunia. Itu sebabnya,
ketika muncul berita bahwa GM “Berniat” Bangkrut, banyak orang yang
terkejut.
Banyak yang tidak percaya bahwa Pemerintah AS membiarkan GM
bangkrut mengingat GM dan Ford merupakan dua perusahaan mobil pertama
di negara itu, yang usianya sudah lebih dari 100 tahun.
Rasanya sangat sulit untuk membayangkan dunia tanpa kehadiran GM
yang selama bertahun-tahun menjadi perusahaan mobil yang terbesar di
dunia. Tadinya, GM diikuti oleh Ford yang berada di urutan kedua.
Namun, dalam tiga tahun terakhir, perusahaan mobil asal Jepang,
Toyota, menempati urutan kedua dan menyingkirkan Ford ke urutan ketiga.
Jika pada akhirnya nanti Pemerintah AS benar-benar tidak memenuhi
permintaan ketiga perusahaan mobil terbesar AS untuk memberikan dana
talangan sebesar 25 miliar dollar AS, urutan pertama, kedua, hingga
kesepuluh akan ditempati oleh perusahaan pembuat mobil asal Jepang
atau Jerman, seperti Toyota, Volkswagen, Honda, Nissan/Renault,
PSA/Peugeot, dan bahkan perusahaan pembuat mobil asal Korea Selatan,
Hyundai/KIA.

Kehilangan besar
Tidak adanya lagi GM, Ford, dan Chrysler akan dirasakan dunia
sebagai kehilangan yang besar, demikian juga dengan Indonesia.
Bagaimana tidak, mobil-mobil seperti Cadillac dan Buick sudah hadir di
Indonesia jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tanggal
17 Agustus 1945. Tepatnya, pada saat Indonesia masih berada dibawah
pendudukan Belanda dan bernama Hindia Belanda (Nederlands Indie).

Foto: 1906: Cadillac milik C von Bornemann (memegang setir),
administratur pabrik gula Sewoe Galoer,
Yogyakarta. Tampak Gunung Merapi dan Merbaboe
di latar belakang.

Sejak tahun 1906, Cadillac sudah hadir di Yogyakarta. Bahkan,
ketika para pembesar Hindia Belanda yang tergabung dalam Soerabajasche
Motor Club (Klub Motor Surabaya) berpose beramai-ramai dengan mobil
mereka dalam perjalanan menuju ke pemandian Banyu Biru, 24 Februari
1907, Cadillac merupakan salah satu di antaranya.
Ford model T pun mulai hadir sejak tahun 1912, sementara Chevrolet
mulai hadir tahun 1928. Bahkan, kendaraan resmi kepresidenan Indonesia
yang pertama adalah Buick Eight. Pada tahun 1945, Presiden Soekarno
mendapatkan mobil buatan tahun 1939 itu dari seorang pengusaha dan ia
menjadikannya sebagai mobil dinas presiden.
H Mangil Martowidjojo, dalam bukunya yang berjudul Kesaksian
tentang Bung Karno 1945-1967 terbitan PT Gramedia Widiasarana
Indonesia (Grasindo), Jakarta, 1999, menceritakan bagaimana Presiden
Soekarno menentukan pelat nomornya sendiri, Indonesia 1.
Menurut Mangil, selain mobil Buick Eight itu, di Istana Yogyakarta
juga terdapat mobil lain yang dipinjamkan oleh Sri Paku Alam VIII
untuk keperluan Istana. Namun, Mangil tidak ingat merek mobil itu.
Selain dua mobil itu, di Istana kemudian juga terdapat mobil
DeSoto (1947) cabriolet, Cadillac (1947) cabriolet, Lincoln (1952)
cabriolet, Chrysler Crown Imperial (1957), dan Mercedes Benz 600.
Pada masa Orde Baru (1967-1998), kehadiran mobil- mobil keluaran
AS secara perlahan digantikan oleh mobil-mobil keluaran Jepang. Pada
masa itu, walaupun mobil-mobil keluaran AS masih ada, jumlahnya sudah
sangat minim.
Pada masa reformasi, secara perlahan-lahan mobil-mobil keluaran
AS, seperti Ford dan Chevrolet, mulai hadir kembali. Kendati jumlahnya
masih kecil apabila dibandingkan dengan mobil-mobil keluaran Jepang,
seperti Toyota, Honda, Mitsubishi, dan Suzuki, jumlah itu sudah
lumayan banyak.
Simak saja ada Ford Focus, Ford Escape, Ford Everest, dan Ford
Ranger, serta Chevrolet Spark, Chevrolet Captiva, Chevrolet Estate,
Chevrolet Kalos, dan Chevrolet New Aveo.
Entah apa yang akan terjadi dengan kelanjutan mobil-mobil Ford,
GM, dan Chrysler di Indonesia jika Pemerintah AS pada akhirnya
memutuskan untuk tidak memberikan dana talangan kepada tiga perusahaan
pembuat mobil tersebut.(JL)

Artikel ini dimuat di harian Kompas, 26 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s