Waktu Tempuh Ideal Jakarta-Bandung

Pada hari Jumat, 25 Maret 2017, seorang rekan dari suratkabar Pikiran Rakyat, Bandung, Budhiana Kartawijaya, menulis dalam akun Facebook-nya,

 

            Sebelum ada tol, perjalanan Bandung-Jakarta sekitar 5-6 jam. Mobilnya masih bus-bus zaman dulu. Sekarang sudah ada tol. Mobilnya canggih-canggih. Ehh…perjalanan Jakarta-Bandung 7 jam. Apakah berarti hidup kita maju?

 

Kita tahu itu adalah cara rekan Bhudi mengungkapkan kekesalannya. Oleh karena, Jumat, 25 Maret 2017 itu adalah akhir pekan yang panjang, mengingat pada hari Selasa, 28 Maret 2017 adalah Hari Nyepi yang merupakan hari libur nasional. Akibatnya, pada hari itu banyak orang yang melakukan perjalanan ke Bandung sehingga ruas jalan tol Jakarta-Bandung sangat padat. Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam waktu rata-rata 3 jam itu, bertambah lama menjadi 7 jam.

Waktu tempuh Jakarta-Bandung itu selalu menarik untuk dibahas. Ada masa di mana perjalanan lewat darat dari Jakarta ke Bandung menghabiskan waktu 5 hari 4 malam dengan gerobak yang ditarik oleh dua sapi. Kadang-kadang perjalanan itu menjadi lebih lama karena orang memilih untuk beristirahat pada malam hari. Gelap dan sepinya keadaan di sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung membuat orang khawatir bertemu rampok atau binatang buas.

 

Setelah jalan pos Anyer-Panarukan dibangun pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendles (1808-1811), perjalanan ke Bandung menjadi lebih cepat, hanya 1 sampai 2 hari. Khusus untuk pengantaran pos kilat hanya 1 hari.

Sewaktu jalur Kereta Api dari Batavia ke Surabaya via Bandung selesai dibangun pada tahun 1894, perjalanan dari Jakarta ke Bandung memerlukan waktu 5 jam dan 20 menit. Dalam buku ”Indonesia di Mata Masyarakat Jepang di Hindia Belanda 100 Tahun yang lalu dalam Kartu Pos Bergambar Foto”, Aoki Sumio, PT Bina Komunika Asiatama,  Februari 2017, dikisahkan, pada tahun 1912, Kajiwara Yasuto, editor utama Taiwan Shimbun, berangkat dengan kereta api dari Batavia pukul 14.40, dan sampai di Bandung pukul 20:00.

 

 

Pada tanggal 10 Mei 1911, dua mobil buatan Perancis, Charron dan Delaunay Belleville, mengikuti Lomba Jakarta-Surabaya Nonstop. Kedua mobil itu berangkat dari wilayah Matraman, pukul 17.00 lewat. Perjalanan ditempuh melalui rute Jakarta, Cibinong, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Cimahi, dan Bandung. Rute Puncak masih sulit dilalui karena tanjakannya terlalu tinggi. Dalam buku ”Sejarah Mobil, Kisah Kehadiran Mobil di Negeri Ini” dikisahkan, pada saat Matahari mulai condong ke barat di Matraman, dekat Mester Jatinegara, dua mobil yang mengikuti Lomba Jakarta-Surabaya Nonstop siap berangkat. Charron berangkat lebih dahulu, diikuti Delaunay Belleville.

Pada pukul 19.05, Charron memasuki kota Bogor, dan pukul 19.30, melewati Cibadak (Sukabumi). Tidak jauh dari Cianjur, di dekat Gunung Masigit, Charron mengalami kecelakaan. Setelah diperbaiki, Charron melanjutkan perjalanan, dan pukul 23.10 tiba di Hotel Preanger, Bandung. Charron menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bandung dalam waktu 6 jam dan 10 menit. Namun, jangan lupa itu adalah waktu yang dicatat saat lomba, dalam perjalanan biasa mungkin diperlukan waktu 7 sampai 8 jam. Selain itu, kualifikasi pengendaranya juga sekelas pereli. Charron mencatat rekor Jakarta-Surabaya Nonstop dalam waktu 19 jam dan 26 menit, sementara Delaunay Belleville tidak meneruskan lomba karena mengalami kecelakaan.

Pada tahun 1929, Ford Tipe A membukukan rekor baru Lomba Jakarta-Surabaya Nonstop dengan 11 jam dan 26 menit. Dengan kecepatan rata-rata 75 kilometer per jam, perjalanan Jakarta-Bandung diselesaikan dalam waktu hampir 3 jam. Namun, pada saat itu jalanan masih sangat sepi, mengingat pada saat itu jumlah mobil tidak sampai 50 unit.

Satu tahun sebelumnya, dioperasikan penerbangan Jakarta-Bandung, dari Lapangan Terbang di Cililitan, Jakarta (kini, Halim Perdanakusuma), ke Lapangan Terbang Andir, Bandung, (kini, Husein Sastranegara) yang memerlukan waktu 35-40 menit.

Secara berseloroh, kadang-kadang dibahas bahwa waktu yang diperlukan untuk melakukan perjalanan Bandung semakin lama semakin singkat. Mulai dari 5 hari 4 malam, kemudian 1 sampai 2 hari, 5 jam dan 20 menit, hampir 3 jam, hingga hanya 35-40 menit. Dengan semakin cepatnya kendaraan yang digunakan, bukan tidak mungkin apabila kita berangkat hari ini, kita akan sampai di Bandung kemarin. Namun, cerita tentang mesin waktu seperti itu hanya ada dalam cerita-cerita fiksi ilmiah.

 

Transportasi darat

Dalam tulisan ini, perhatian lebih dipusatkan pada perjalanan Jakarta-Bandung melalui darat. Dengan semakin padatnya, rute Jakarta-Bandung lewat Sukabumi itu, akhirnya juga dibuka rute Puncak Pass yang lebih pendek, tetapi tanjakannya lebih tinggi.

Pada tahun 1960an, perjalanan dari Jakarta ke Bandung melalui rute Puncak Pass, memerlukan waktu 5 hingga 6 jam. Pada tahun 1970an, dengan semakin tingginya kecepatan mobil, perjalanan Jakarta-Bandung via Puncak Puncak pun dapat dikurangi menjadi sekitar 5 jam. Sejak jalan tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi) dibuka pada tanggal 9 Maret 1978, waktu tempuh Jakarta-Bandung berkurang menjadi 4 hingga 5 jam.

Pada tahun 1988, jalan tol Jakarta-Cikampek dibuka. Perjalanan Jakarta-Bandung bergeser melalui Purwakarta atau Subang karena waktu tempuhnya hanya 3,5 sampai 4 jam. Dengan dibukanya, ruas tol Cikampek-Sadang dan Padalarang-Cileunyi pada tahun 2002, waktu tempuh Jakarta-Bandung menjadi 3 hingga 3,5 jam.

Waktu tempuh Jakarta-Bandung menjadi lebih singkat lagi dengan dibukanya Jalan Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang), akhir April 2005, beberapa hari sebelum Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung. Waktu tempuh dari pintu Tol Cawang hingga pintu Tol Pasteur hanya 1 jam dan 30 menit. Dengan demikian, waktu tempuh Jakarta-Bandung hanya 1,5 hingga 2 jam. Dan, dengan semakin padatnya ruas tol Cikampek, saat ini rata-rata perjalanan Jakarta-Bandung menghabiskan waktu 3 jam. Tentunya dengan catatan, kalau lalu lintas tidak macet.

Pada tanggal 17 Mei 2005 pukul 10.20, saat melakukan test drive BMW 645Ci, perjalanan Jakarta-Bandung, tepatnya dari pintu tol Slipi (di depan Gedung BPK) hingga pintu tol Pasteur, Bandung, ditempuh dalam 1 jam dan 10 menit. Kebetulan, pagi itu, lalu lintas di ruas tol dari Jakarta menuju Bandung cukup lowong. Tidak terasa pintu tol Pasteur sudah dekat. Rekan saya, Johnny TG, menyediakan uang untuk membayar tol. Tidak berlebihan ketika tulisan mengenai test drive itu diberi judul, ”Saat di Mana Waktu Seakan Berhenti…”.

Jika jalur rel kereta api cepat selesai dibangun, maka perjalanan Jakarta-Bandung hanya 30 menit, sama dengan waktu yang diperlukan pesawat terbang.(James Luhulima)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s