Ulasan Film Beauty and The Beast

Menyusul kesuksesan dari versi live-action dari film-film animasi legendaris keluaran Disney, seperti Alice in Wonderland, Maleficent, Cinderella, dan The Jungle Book, kini giliran film Beauty and the Beast yang ditayangkan di bioskop berbagai pelosok dunia. Karakter wanita utama film tersebut yaitu Belle, dibintangi oleh aktris alumni pemeran Hermione dalam film-film sihir Harry Potter, Emma Watson, sedangkan Beast dibintangi oleh aktor alumni serial UK Downton Abbey, Dan Stevens.

Selain kedua aktor itu, karakter laki-laki narsis di dalam film tersebut yang bernama Gaston, dibintangi oleh aktor kawakan pemeran film Dracula Untold, Luke Evans, kaki tangan Gaston, LeFou dibintangi oleh Josh Gad, yang sebelumnya merupakan pengisi suara dari Olaf, manusia salju di film Frozen, dan masih banyak bintang lainnya yang turut berpartisipasi dalam film tersebut.

Cerita yang diangkat di dalam film ini kurang lebih sama persis dengan versi animasi-nya, dengan sedikit tambahan detail-detail mengenai awal mula kutukan Beast yang dahulunya merupakan seorang pangeran tampan, dan juga diceritakannya latar belakang dari masa lalu Belle. Dibandingkan dengan film terdahulunya, yaitu Cinderella, Beauty and the Beast lebih bersifat musikal.

Lagu-lagu legendaris dari versi animasinya yaitu Be Our Guest, Gaston, Something There, How does a moment last forever, dan juga Beauty and the Beast yang dilantunkan oleh Celine Dion dan Peabo Bryson pada tahun 1991, turut dinyanyikan oleh para pemain film ini. Ewan McGregor, aktor pemeran karakter pegangan lilin bernama Lumiere sempat dikritik karena aksen perancis-nya yang kurang otentik, tetapi banyak penggemar dari filmnya tidak mempermasalahkan hal tersebut dikarenakan sisi humor yang dibawa oleh Lumiere berkali-kali menghibur penonton.

Awal cerita dimulai dengan Belle, seorang perempuan muda yang hobi membaca buku dan membantu ayahnya dalam hidupnya sehari-hari merasa bahwa tempat yang ditinggalinya itu membosankan dan repetitif. Para penduduk desa melakukan rutinitas yang sama tiap harinya dan mereka juga menganggap Belle aneh karena kelakuannya tidak seperti perempuan lain di desanya, yang mementingkan kecantikan. Belle yang cerdas dianggap ‘berbeda’ dan ia pun merasa aneh bahwa pandangan hidupnya yang maju tidak dapat diterima oleh para penduduk desa.

Belum lagi urusannya dengan Gaston, laki-laki tampan dan narsis yang terus mengajak Belle untuk menjadi istrinya, walaupun berkali-kali ditolak mentah-mentah oleh Belle. Suatu hari, ayah Belle (Kevin Kline), seorang penemu yang eksentrik tetapi mendukung penuh mimpi-mimpi dari Belle, memutuskan untuk meninggalkan desa untuk menunjukkan temuan terbarunya. Sayangnya ia tersasar dan malah masuk ke dalam istana seorang mahluk yang disebut sebagai Beast, dan berujung menjadi tawanannya.

Belle yang khawatir lalu menyusulnya dan bertukar tempat dengan ayahnya sebagai tawanan Beast. Itulah awalnya dari benih-benih cinta yang kemudian muncul saat ia mengenal Beast lebih jauh. ia merasa memilki persamaan dengan nasib Beast yang dijauhi hanya karena ia ‘berbeda’. Selain itu, ia juga menjalin pertemanan dengan para penunggu istana tersebut yang dikutuk menjadi perabotan-perabotan seperti sebuah pegangan lampu, piano, lemari, teko, cangkir dan lainnya.

Hal baru yang dapat dilihat di Beauty and the Beast ini adalah kehadiran seorang Enchantress yang menjadi akar dari kutukan Beast, yang tidak diperlihatkan dalam versi animasinya. Selain itu, adanya sebuah alat yang memiliki ilmu sihir yang diberikan kepada Beast untuk dapat mengunjungi tempat mana saja yang ia mau. Hal ini yang kemudian memberikan kesempatan untuk Belle mengetahui lebih lanjut mengenai masa lalunya, terutama mengenai nasib ibunya.

Emma Watson terlihat sangat cantik dalam film ini dan pantas menjadi Belle yang mandiri dan feminis. Kurang lebih sifat Belle menyerupai karakter yang pernah ia perankan, yaitu Hermione yang kutu buku, dan juga dalam kehidupan pribadinya di mana ia adalah seorang aktivis kesetaraan gender. Luke Evans juga menunjukkan akting yang mantap sebagai lelaki narsis tetapi berhati buruk Gaston, walaupun ia mengaku peran ini adalah pertama kali ia memerankan film di mana ia harus bernyanyi.

Dan Stevens memerankan Beast dilengkapi dengan CGI, tetapi hal itu tidak membatasi kemampuan aktingnya, yang pasti Beast versi Dan Stevens memiliki mata biru yang lembut, tidak seperti animasinya yang berwarna cokelat. Sepanjang menonton filmnnya juga para penonton disuguhi rasa nostalgia, terlebih ketika lagu Beauty and the Beast didendangkan, para fans di dalam hati pasti turut melantunkan lagunya.

Menurut rumor yang beredar, film ini baru merupakan awal dari versi-versi live action yang akan dibuat oleh Disney. Berikutnya yang menjadi sorotan adalah film animasi Mulan, Cruela De Vil, antagonis di film 101 Dalmatians, Little Mermaid, The Lion King, dan masih banyak lagi.
(Sasha Almandingen, pengamat film)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s