Bagaimana Orang Indonesia Memilih Mobil?

Tanyakan kepada para direktur marketing otomotif di Indonesia, bagaimana pusingnya mereka ketika perusahaan tempat mereka bekerja akan memasarkan suatu produk baru di Indonesia? Persoalannya, cara orang Indonesia dalam memilih mobil yang akan dibelinya, berbeda dengan cara orang-orang di negara lain. Tidak semuanya memang, tetapi sebagian besar begitu.

Sangat sulit, bagi siapapun, untuk menjelaskan, bagaimana, atau apa sebabnya, Toyota Avanza yang pertama kali diluncurkan awal Desember 2003—dan sampai di tangan konsumen awal Januari 2004—, tetap menjadi mobil terlaris hingga hampir 13 tahun sesudahnya. Padahal selain saudara kembarnya, Daihatsu Xenia, di segmen itu juga muncul berbagai model yang tidak kalah menariknya. Mulai dari Nissan Grand Livina, yang bermain di antara Toyota Avanza dan Toyota Kijang Innova, Nissan Livina (versi chassis pendek Grand Livina), Suzuki Ertiga, Honda Mobilio, serta pendatang baru Mitsubishi Expander dan Wuling Confero S. Di dekatnya juga ada Honda BRV yang dapat memuat 7 orang (7 seater).

Uniknya, dominasi Toyota Avanza itu dicapai hanya dengan menambah varian 1.5 Liter, melakukan serangkaian facelift, dan mengenalkan varian Veloz, yang secara sosok tidak ada perbedaan yang signifikan dengan Toyota Avanza biasa.

Walaupun demikian, dominasi Toyota Avanza di segmen itu tidak menutup peluang merek-merek lain untuk masuk dan berkembang. Bagaimanapun, segmen low multi-purpose vehicle (low MPV) dengan rentang harga jual dari Rp 150 juta hingga Rp 250  juta itu adalah segmen yang terbesar di Indonesia, dengan demikian semua merek yang bermain di segmen itu dapat menangguk keuntungan. Beban kini ada di pundak Mitsubishi dan Wuling untuk mengukuhkan kehadirannya di segmen yang terbesar itu.

Pada tahun 2008, seorang petinggi perusahaan otomotif asal Jepang, yang baru dua bulan bertugas di Jakarta, bertanya, mengapa banyak sekali mobil serupa yang lalu lalang di jalan raya di negara ini? Beberapa wartawan yang diajaknya berbincang-bincang kesulitan untuk menjawabnya. Dua setengah tahun sesudahnya, ketika ia mengakhiri tugasnya di Jakarta, kepada wartawan-wartawan yang sama ia mengatakan, “Saya pikir, saya tahu jawabannya.”

Menurut dia, di banyak negara orang memilih mobil yang akan dibelinya sesuai dengan kebutuhan dirinya. Sementara, di Indonesia, sebagian besar orang memilih mobil yang akan dibelinya berdasarkan mobil yang dimiliki tetangga, keluarga, atau bahkan rekan kerjanya.

Dan, masih menurut dia, itu yang menjelaskan mengapa kita melihat banyak sekali mobil serupa (bermerek sama) yang lalu lalang di jalan, di kompleks perumahan, serta diparkir di areal parkir di perkantoran, di mal, atau di pusat perbelanjaan.

Kebenaran dari pendapatnya memang masih harus diuji. Namun, pada saat itu, dan hingga kini, menurut akal sehat (common sense), pendapatnya dapat diterima karena terasa benar. Oleh Karena, model-model yang muncul di segmen low MPV kualitasnya tidak kalah, bahkan beberapa secara produk lebih baik dari Toyota Avanza.

Mengapa keadaannya seperti itu? Alasannya bisa sangat beragam, mulai dari malas berpikir mengenai mobil apa yang sesuai dengan kebutuhannya, sampai sikap tidak mau kalah dengan tetangga, keluarga, atau rekan kerjanya.

Tidak heran jika kita kerap menyaksikan orang yang membeli mobil yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya seseorang membeli sebuah mobil yang dapat memuat
7  orang, padahal setiap hari ia hanya menggunakannya seorang diri. Atau ia membeli mobil yang panjangnya melebihi panjang car port di rumahnya sehingga ia harus memodifikasi pagarnya (memanjangkannya) agar pintu pagar dapat ditutup dan dikunci.

Belum lagi, di masyarakat ada anggapan, kondisi jalan di Indonesia yang buruk, membuat mobil berpenggerak roda belakang dan yang menggunakan semi ladder frame lebih unggul ketimbang mobil berpenggerak roda depan dan berbodi monocoque sepenuhnya.

Melihat kecenderungan itu, kedepannya, tidak ada cara lain bagi para direktur marketing otomotif di Indonesia, kecuali mencari cara-cara baru agar produk yang dipasarkannya dapat mendominasi segmennya. Menerapkan cara-cara seperti yang dipraktikkan di negara lain tentu tidak dapat dilakukan begitu saja di Indonesia. Tantangan terbesar adalah bagaimana membuat agar model mobil yang dipasarkan dapat menjadi top of mind (yang paling diingat) di masyarakat Indonesia?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s