Membangkitkan Kembali Pasar Mobil Sedan

 

Ada hal menarik dalam pidato Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2007 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, Banten, 10 Agustus lalu. Dalam pidatonya, Airlangga mengatakan, pemerintah tengah membuat kebijakan untuk menyamakan regulasi dan insentif yang terkait dengan mobil sedan.

Itu berarti, dalam waktu dekat pajak yang dikenakan terhadap mobil sedan tidak akan terpaut jauh lagi dibandingkan dengan mobil non sedan, seperti multi-purpose vehicle (MPV), sport utility vehicle (SUV), jip, hatchback, dan pick up (single dan double cabin).

Keputusan itu diambil pemerintah untuk mendorong peningkatan jumlah mobil yang diekspor. Hingga bulan Juni 2017, ekspor mobil CBU (complete built-up), atau mobil dalam keadaan utuh, berjumlah 113.269 unit, naik 20,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ditargetkan, jumlah ekspor mobil CBU itu akan mencapai sekitar 200.000 unit pada akhir tahun 2017 ini.

Sesungguhnya jumlah ekspor mobil CBU Indonesia itu bisa lebih besar, jika ekspor mobil CBU itu juga mencakup mobil sedan yang pasarnya di luar negeri lebih besar. Itu sebabnya, pemerintah tengah membuat kebijakan untuk menyamakan regulasi dan insentif yang terkait dengan mobil sedan. Persoalannya, untuk mengekspor mobil sedan dalam keadaan utuh, diperlukan penyerapan mobil sedan di dalam negeri yang cukup besar. Pertanyaannya, mungkinkah hal itu dicapai? Jawabannya, mungkin, tetapi tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu waktu dan usaha yang keras, terutama karena mobil yang dapat memuat 7 orang (7 seater) sangat populer di negara ini.

Pasar mobil sedan di negara ini sangat kecil apabila dibandingkan dengan pasar mobil non sedan. Pada tahun 2016, pada saat penjualan mobil secara nasional mencapai lebih dari 1 juta unit, penjualan mobil sedan tidak sampai 25.000 unit. Rendahnya penjualan mobil sedan di Indonesia bukan diakibatkan oleh buruk atau rendahnya kualitas mobil sedan dibandingkan dengan mobil non sedan, melainkan karena penjualan mobil sedan dibatasi oleh pemerintah, dengan mengenakan pajak yang tinggi terhadap mobil sedan.

Pembatasan penjualan mobil sedan di negara ini mulai dilakukan 47 tahun lalu. Pada tanggal 6 Agustus 1970, saat meresmikan pabrik perakitan PT Gaya Motor di Jakarta, Presiden Soeharto mengemukakan, sesuai dengan urgensi pembangunan, maka diutamakan pencukupan akan keperluan kendaraan niaga, dan harus diimpor dalam keadaan terurai (CKD = completely knocked-down). Oleh Karena, kendaraan yang dirakit di dalam negeri harganya lebih murah daripada yang diimpor secara utuh (CBU) dari luar negeri. Selain menghemat devisa, sekaligus juga memberikan kemungkinan yang lebih besar kepada masyarakat untuk membelinya.

Untuk mendorong pertumbuhan industri kendaraan niaga di dalam negeri, Menteri Keuangan Ali Wardhana mengeluarkan dua Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 919 dan Nomor 912, masing-masing bertanggal 22 dan 21 Juli 1976, yang menetapkan, Pajak Penjualan (PPn) mobil sedan dan station wagon dinaikkan dari 5 persen menjadi 20 persen. Bea masuk mobil sedan dan station wagon yang diimpor dalam keadaan terurai juga dinaikkan dari 50 persen menjadi 100 persen. Sedangkan PPn impornya dinaikkan dari 10 persen menjadi 20 persen.

Surat Keputusan itu juga menetapkan, pajak penjualan kendaraan niaga hasil rakitan dalam negeri diturunkan dari 5 persen menjadi 0 persen. Impor kendaraan niaga dalam keadaan CKD pun dibebaskan dari pembayaran bea masuk dan PPn impor.

Dengan PPn mobil sedan dan station wagon sebesar 20 persen, bea masuk 100 persen, serta PPn impor 20 persen secara otomatis membuat harga jual mobil sedan dan station wagon menjadi mahal. Jauh lebih mahal daripada harga jual kendaraan niaga, yang dibebaskan dari kewajiban membayar PPn, bea masuk, dan PPn impor.

Beralih dari sedan

Menjadi jauh lebih mahalnya harga jual mobil sedan dan station wagon dibandingkan dengan harga jual kendaraan niaga, membuat amat banyak konsumen yang beralih dari mobil sedan ke kendaraan niaga. Dan, menurunnya jumlah pembelian mobil sedan dan station wagon, dengan sendirinya mengakibatkan jumlah produksi sedan pun menurun drastis. Pada tahun 1977, produksi mobil sedan turun 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dari 23.989 unit pada tahun 1976 menjadi 13.199 unit pada tahun 1977. Sementara produksi kendaraan niaga, naik 51,54 persen, dari 51.282 unit pada tahun 1976 menjadi 77.715 unit pada tahun 1977.

Sejak saat itu, penjualan mobil sedan secara nasional selalu jauh lebih rendah ketimbang penjualan kendaraan niaga, atau mobil non sedan. Sedan dikategorikan sebagai mobil tiga boks, yang terdiri dari mesin, kabin, dan bagasi. Sedangkan, kendaraan niaga dikategorikan sebagai mobil dua boks, yang terdiri dari mesin dan barang/penumpang.

Pada awalnya, mobil dua boks itu hanya mencakup mobil niaga, minibus, dan jip saja. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, mobil dua boks itu juga mencakup MPV, hatchback, dan SUV.

Keputusan pemerintah untuk membatasi penjualan mobil sedan pada awal tahun 1970an dapat dimengerti, karena pada saat itu para petani sangat memerlukan kendaraan niaga untuk mengangkut hasil pertanian dari pedesaan ke kota. Akan tetapi, dengan membaiknya kondisi perekonomian rakyat pada tahun 1990an, seharusnya pengenaan pajak yang tinggi bagi sedan ditinjau kembali. Akan tetapi, pemerintah tidak melakukannya.

Tahun 2000an, masuk mobil-mobil jenis MPV, hatchback, dan SUV yang kemewahannya setara dengan sedan. Namun, karena pemerintah tidak meninjau kembali pajak tinggi yang dikenakan terhadap mobil sedan, maka  harga jual MPV, hatchback, dan SUV lebih rendah daripada sedan yang kemewahannya sama. Oleh karena, MPV, hatchback, dan SUV dikategorikan sebagai mobil dua boks. Idealnya, pajak mobil ditentukan berdasarkan harga jual mobil.

Sesungguhnya, selain diakibatkan oleh pajak yang tinggi, penurunan penjualan sedan secara tidak langsung juga diakibatkan oleh informasi negatif yang disampaikan salesman/saleswoman yang terlalu bersemangat dalam menjual mobil non sedannya. Diinformasikanlah, kondisi jalan di Indonesia yang jelek dan sering banjir, yang memerlukan mobil yang ground clearance-nya tinggi agar aman. Atau, sedan itu daya muatnya hanya empat orang, kurang cocok untuk angkutan keluarga. Atau juga, sedan itu kalah lincah dibandingkan hatchback.

Padahal keandalan dan ketangguhan sedan, sesungguhnya tidak kalah ketimbang MPV, hatchback, dan SUV. Dan, sistem pengapian elektronik yang kedap air membuat sedan secara relatif dapat melewati banjir (yang tidak terlalu dalam tentunya) dengan aman. Perusahaan taksi yang menggunakan sedan memperlihatkan hal itu. Taksi-taksi  itu umumnya digunakan untuk melakukan perjalanan melalui berbagai kondisi jalan sejauh 200 kilometer per hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s